Why Now

Aku masih mematung menatap gundukan tanah merah yang masih basah di depanku. Tidak ku pedulikan saat orang-orang mulai beranjak meninggalkan tempat ini. Di sini, Doni terbaring untuk selamanya. Bahkan saat kedua orangtuanya dan teman-teman kami mengajakku pergi, aku bergeming. Hinga rintik hujan yang berangsur turun memaksaku untuk meninggalkan tempat ini. Meninggalkan Doni sendirian di peristirahatan terakhirnya.

Doni, orang yang selama ini menjadi tempat berbagiku. Selalu mendengar keluh kesahku, tidak peduli seberapapun sibuknya dia. Doni yang saat pertama kali kenal, aku anggap sebagai sosok yang angkuh. Dia sangat jarang tersenyum dan hanya sesekali berbicara.

Tapi, penilaianku berubah setelah beberapa kali tergabung dengannya di kepanitiaan kegiatan kampus maupun jurusan. Dia pribadi yang hangat, sosok pemimpin yang baik, dan tidak pernah sekalipun aku melihatnya mengeluh walaupun sedang mengalami masalah. Entah kenapa, aku pun mulai dekat dengannya. Aku tidak segan untuk membagi masalahku dengannya. Dia bisa tahu saat di mana aku hanya butuh didengar dan saat di mana aku butuh nasihat.

Sekarang, dia pergi untuk selamanya. Aku kehilangan sosok seorang sahabat. Tidak tahu lagi akan ke mana membagi masalahku setelah dia pergi. Dia bisa mengerti aku di saat aku sendiri tidak mengerti dengan diriku. Ah, aku benar-benar merindukannya.

Aku membuka tasku dan mengambil sebuah buku kecil yang tadi diberikan oleh Riko, kakak Doni.

“Sebelum pergi, Doni memintaku untuk memberikan ini kepadamu.”

“Ini apa?”

“Aku tidak tahu, Tasy. Kamu buka dan baca saja nanti.”

Perlahan aku membalik halaman demi halaman buku itu. Ternyata, itu adalah diary Doni. Dia menulis semua yang dia alami semenjak awal kuliah di sana. Aku membaca diary itu sambil bernostalgia mengenang semua hal yang aku lalui bersama Doni yang tertulis di diary itu. Rasa kehilanganku sedikit terobati. Aku merasa saat ini Doni ada di sini bersamaku.

Sampailah aku di halaman yang ditandai Doni. Aku membacanya dengan degupan jantung yang semakin cepat.

24 April

Aku mulai menyerah. Aku tidak sanggup lagi menyembunyikan penyakit ini. Aku hampir tidak bisa menahan rasa sakitnya. Dua kali aku merasa kepalaku melayang. Dokter yang memeriksaku kecewa dengan hasil MRI terakhir. Dia bilang aku harus mengurangi kegiatanku. Tapi mana mungkin. Hanya itu alasanku untuk tetap kuat. Tidak,  ada satu lagi alasanku. Tasya.

Aku harus bertahan agar dia tahu yang sebenarnya. Dan aku tidak boleh terlihat lemah di depan siapapun, terutama dia. Dia sedang membutuhkanku belakangan ini.


28 April

Kemotherapi ini membunuhku perlahan-lahan. Aku sendiri heran mengapa ini disebut pengobatan, padahal sebenarnya melemahkanku secara perlahan. Kulitku mulai terlihat gelap seperti terbakar dari dalam dan rambutku perlahan menipis. Setelah berkali-kali aku menjalani kemo, tetap tidak ada perubahan berarti untuk penyakitku.

Sepuluh sms aku terima di handphoneku sejak tadi pagi. Tidak ada satupun yang ku balas, karena aku bingung harus menjawab apa. Lima di antaranya dari Tasya yang mencariku seharian. Dari kata-katanya dia nampak khawatir. Tapi biarlah, aku tidak mau membebaninya dengan masalah penyakitku.

Tasya, maaf aku membuatmu khawatir seharian ini.


29 April

Mulai hari ini aku harus memakai topi ke kampus. Untuk menyembunyikan rambutku yang makin tipis. Untunglah tidak ada kelas hari ini, jadi aku tidak perlu melepaskan topiku. Hari ini aku tidak bisa menghindar untuk bertemu Tasya. Dia langsung menghambur ke ruang himpunan setelah selesai kuliah. Kali ini dengan sembab di matanya. Aku tidak sanggup melihat wajahnya yang lugu menangis seperti itu, tidak akan pernah sanggup.

Dia bertengkar lagi dengan Arya. Lelaki brengsek, makiku dalam hati. Mana ada lelaki yang begitu tega membuat orang yang dicintainya menagis. Ya, aku tidak akan rela jika Tasya harus menangis.

Aku menasehatinya untuk bersabar menghadapi Arya, hanya itu yang bisa aku katakan. Meskipun sebenarnya aku ingin katakan seharusnya dia bersamaku bukan dengan lelaki brengsek itu.


30 April

Dari kejauhan aku melihat Tasya begitu bahagia di samping Arya. Nampaknya mereka sudah berbaikan. Aku lega.

Hari ini kondisiku drop. Aku mengalami epitaksis, mimisan. Untunglah hanya Indra yang melihatku. Dia memaksaku untulk bercerita mengenai kondisiku. Sekarang selain Riko, kakakku ada Indra yang mengetahui penyakitku. Indra terkejut dan hanya bisa diam ketika aku ceritakan umurku yang tinggal beberapa bulan.


14 Mei

Aku terbangun di ranjang rumah sakit. Mereka bilang aku pingsan ketika sedang memimpin rapat himpunan. Untunglah Indra sudah aku beritahu untuk tidak memberitahu siapapun, sehingga cerita yang beredar hanya aku kurang tidur selama beberapa hari dan kelelahan.

Tasya tidak aku izinkan untuk menjengukku. Dan dia menangis di telepon karena itu. Aku bilang aku tidak mau membuatnya khawatir. Padahal saat ini hanya wajahnya yang membuatku dapat bertahan. Tuhan, beri aku waktu sehari lagi untuk melihatnya tersenyum. Aku akan pergi dengan tenang jika telah melihatnya tersenyum bahagia.


23 Mei

Malam ini malam inagurasi mahasiswa baru. Pelantikan untuk anggota HIMA baru. Malam ini rencananya aku akan menyanyikan sebuah lagu untuk Tasya. Tepat ketika malam acara puncak saat kami mengelilingi api unggun. Aku tidak memberitahukan untuk siapa, hanya hatiku yang tahu ini untuk Tasya.  Tapi semuanya gagal karena ternyata ada yang bermaksud sama denganku.

Arya datang dan menyanyikan lagu ‘Janji Suci’. Yup, malam ini Arya melamar Tasya di hadapan semua orang. Dan wajah Tasya nampak sangat berbinar saat menerimanya. Aku bahagia melihatnya, tapi di dalam hati aku menangis.

Tuhan, aku siap sekarang. Dia sudah menemukan kebahagiaannya. Aku lega.


26 Juni

Dokter bilang aku sudah melampaui perkiraan yang mereka buat. Harusnya saat ini aku sudah tidak ada lagi. Tapi ternyata tubuhku lebih kuat dari yang mereka kira.


1 Juli

Perawat-perawat di sini sudah melarangku untuk menulis. Tapi aku bersikeras, karena ada satu hal yang belum sempat aku tulis. Aku belum menulis salam perpisahanku untuk Tasya. Selama seminggu ini aku terbaring lemah tak berdaya. Aku berulang kali memikirkan kata yang pantas untuk aku ucapkan padanya. Namun aku tidak pernah sanggup. Apa ini rasanya sekarat dan akan mati?

Kalau iya, rasanya tidak enak. Cukup sekali aku merasakannya.

“Tasya, ketika kamu membaca ini, aku mohon jangan menangis. Aku tidak pernah bisa melihatmu menangis. Maafkan aku yang meninggalkanmu tanpa ucapan perpisahan yang pantas. Aku harap kata-kata ini mampu menggantikannya.

Aku ingin mengatakan selamat tinggal di bawah langit malam yang bertabur bintang dan kembang api yang pecah di atas kepalamu. Persis seperti yang pernah kamu katakan mengenai definisi malam yang sempurna. Sekali lagi maaf karena aku hanya mampu mengucapkannya melalui tulisan ini.

Sejak awal aku tidak pernah berniat untuk meninggalkanmu. Aku hanya ingin menjadi orang yang setia menemani malam-malammu, mendengarkan setiap ceritamu, dan membuatmu tertawa dengan leluconku. Sekarang sudah ada yang bisa melakukan itu untukmu, kan? Semoga kamu berbahagia dengan Arya.

Tasya, mungkin selama ini kamu tidak pernah tahu kamu adalah alasan aku untuk terus berjuang melawan penyakit ini. Karena aku tidak bisa meninggalkanmu sebelum aku melihatmu bahagia. Benar-benar bahagia.

Tapi sekarang aku sudah bisa pergi dengan tenang. Kamu telah menemukan kebahagiaan itu, dengannya. Bukan denganku.

Aku hanya ingin kamu tahu, kamu alasan aku terbangun dari tidurku di setiap malam. Meminta pada Tuhan untuk memberikan satu hari lagi dalam hidupku untuk bisa melihat senyummu.

Kamu masih ingat saat kita berbicara mengenai kehidupan sesudah mati? Kamu bilang jika memang benar ada, kamu ingin menjadi seekor penguin. Aku tertawa saat itu. Tapi kamu menjelaskan, karena penguin selalu setia pada pasangannya. Tidak pernah sekalipun penguin berganti pasangan. Seharusnya kita bisa belajar pada mereka untuk menghargai cinta yang kita miliki.

Penjelasanmu membuatku tersenyum. Ya, memang benar penguin tidak pernah berganti pasangan. Jika di kehidupan selanjutnya kamu ingin menjadi seekor penguin, maka biarkan aku menjadi pasanganmu. Tentunya sebagai penguin juga. Aku akan selalu berada di sisimu, menemani saat terbaik maupun saat terburukmu.

Terakhir, aku cuma ingin kamu tahu aku mencintaimu. Sejak awal aku telah memilih, kamu sebagai cinta terakhirku. Cinta yang dengan egois ku simpan sendiri. Tanpa pernah punya keberanian untuk memberitahumu.

Saat kamu membaca diary ini, itu berarti aku telah pergi. Pergi jauh dan tidak akan pernah kembali. Ragaku tidak akan ada lagi di sisimu, tetapi cintaku untukmu akan abadi menemanimu.

Selamat tinggal, Tasya. Lanjutkanlah hidupmu. Jangan tangisi kepergianku.”

Playlist di laptopku memutar Taboo – Cinta dan Matiku. Aku tidak bisa membendung air mataku. Kenapa aku bisa begitu bodoh tidak menyadari perasaan Doni? Aku tidak pernah menyadari besarnya rasa cinta yang dia simpan untukku. Kini, dia telah pergi untuk selamanya. Tidak ada lagi kesempatan bagiku untuk memberitahunya kalau aku juga mencintainya.

*Cerpen ini ditulis bareng @firah_39

  1. Farisa
    Oct 21, 2011
    sedih bener, knp sih lo suka bikin cerita yg sedih2??? :""( biar dapet yak feel nya ckck
    Reply
    • Zafri
      Oct 21, 2011
      Susah buat bikin an happy ending story.
      Reply
Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome. & GeekyCube.