Alya

Setelah menempuh perjalanan lebih kurang 18 jam, akhirnya aku menginjakkan kaki di Heathrow Airport. Masih tidak percaya akhirnya aku berada di sini, di negara yang menjadi urutan pertama di daftar-negara-yang-harus-aku-kunjungi-sebelum-mati. Beres mengambil bagasi, aku bergegas menuju Heathrow Central untuk menaiki Heathrow Express yang akan membawaku menuju Paddington station. Lima belas menit perjalanan dengan Heathrow Express dan aku tiba di Paddington station. Paddington station ini berada tidak jauh dari Hyde Park, salah satu dari beberapa tempat yang harus aku kunjungi hari ini.

Jauh hari sebelum berangkat, aku sudah menyusun daftar tempat yang harus aku kunjungi di hari pertama aku berada di sini. Aku hanya punya sedikit waktu untuk mengelilingi London. Nanti malam, aku harus berangkat menuju Edinburgh. Terkesan terburu-buru memang, padahal aku masih akan punya waktu lain untuk berkunjung ke London. Namun, ini untuk memenuhi janjiku kepada Alya.

***

“Jangan menyerah dengan impianmu.”

“Impianku adalah pergi ke sana denganmu.”

“Jika ragaku tidak mampu menemanimu ke sana, hatiku akan menemanimu.”

Aku hanya diam. Impian itu aku buat dan bagi dengannya. Bagaimana mungkin aku akan meraihnya sendirian. Selama ini dia lah yang menjadi pengobar semangatku. Aku tidak berani membayangkan dia tidak ada di sampingku. Apalagi di tempat yang nanti akan sangat asing bagiku.

***

Aku sampai di Hyde Park. Tanpa mempedulikan orang-orang aku berteriak.

“Alya, finally I made it. You are here with me, right?”

Ada aliran hangat menjalar di tanganku, menyelusup melalui pembuluh darah ke jantungku. Iya, kamu di sini bersamaku. Aku bisa merasakannya.

Seorang anak kecil melirikku malu-malu. Aku tersenyum, matanya mengingatkanku padamu. Berbinar seakan setiap hal yang kau lihat di dunia adalah hal baru untuk dijelajahi.

Aku mengambil tempat di sebuah bangku taman yang terlihat kosong.

“Iya, aku ada di sini bersamamu.” Kamu muncul di sampingku, lalu mengamit lenganku dan bersandar di bahuku. Aku suka kamu yang seperti ini.

Udara Inggris selalu murung, hujan dan mendung tapi kamu melenggang bebas dengan gaun panjang tanpa lengan.

“Aku tidak bisa hidup tanpa kamu.” Aku menggenggam tangannya yang dingin. Membawanya ke dekapan dadaku, agar dia merasakan detak jantungku.

“Tentu saja kamu bisa. Kamu masih memiliki raga yang kuat untuk menjelajah dan aku akan selalu menemanimu.”

“Tapi tidak dengan cara seperti ini yang aku mau.” Kamu hanya diam dan terus bersandar di bahuku. Sama seperti dulu saat aku masih bisa merasakan hangat genggaman tanganmu. Seperti dulu saat wajahmu tidak sepucat sekarang.

***

“Nanti saat impianmu terwujud dan aku tidak ada di sana bersamamu, kamu harus lakukan satu hal. Teriakkan namaku di sana agar aku juga dapat merasakan kebahagiaanmu.”

Aku tersenyum. “Kamu mau orang-orang berpikir aku gila? Berteriak memanggil namamu?”

“Ya, biar semua orang menganggapmu gila dan tidak ada yang tertarik kepadamu. Kamu milikku.”

“Baiklah, aku akan melakukannya.”

Kamu menggenggam tanganku dan matamu menutup perlahan. Tertidur. Selamanya.

  1. Jen
    Jan 16, 2015
    Aku suka kisah cinta dengan hantu seperti ini,setidaknya dua orang yang saling mencinta namun tak bisa bersama,sebut saja salah satunya hantu. Baiklah... :)
    Reply
Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome. & GeekyCube.