Andai Kamu Tahu

Entah darimana harus ku mulai kata, ketika setiap kata yang ku rangkai selalu berujung kepadamu. Kamu yang selama ini aku kagumi dalam diam. Kamu yang selalu menimbulkan getar berbeda di hatiku saat berada di dekatmu.

Kamu sahabat baikku selalu. Kamu pun tlah menganggap aku sebagai adikmu. Adik yang tidak kamu sadari menyimpan perasaan lebih kepadamu. Entah sejak kapan aku mulai merasakan perasaan ‘berbeda’ itu kepadamu. Mungkin seiring kedekatan kita, rasa itu tumbuh perlahan dan mengakar kuat di hatiku.

“Hei, Nis. Ke mana saja kamu beberapa hari ini?”

“Lagi ada kesibukan, Bang. Kenapa, kangen ya ama aku?”

“Prettt. Ngapain juga aku kangen sama kamu. Mending aku kangen sama cewekku.” Bang Putra menjawab sambil menjitak kepalaku.

Uh, sial. Padahal ‘kan aku berharap kamu bilang kangen sama aku. Sekedar ucapan kangen saja sudah cukup bagiku. Cukup untuk membuat aku tidak bisa tidur nanti malam. Aku hanya memaki dalam hati.

“Sial. Terus kenapa abang nyariin aku? Lagi ada masalah ya ama ceweknya?”

“Pintar kamu. Iya, aku lagi ada masalah sama dia.”

“Lagi bertengkar sama dia aja, baru ingat aku.” aku memasang wajah cemberut.

“Gak bertengkar pun aku ingat sama kamu kok. Kamu ‘kan adikku yang paling pengertian.” dia mengacak-acak rambutku.

Ah, seandainya kamu tahu. Aku gak ingin cuma dianggap adik. Aku ingin jadi belahan hatimu. Seandainya kamu juga tahu, aku lelah harus mendengar cerita pertengkaranmu dengannya. Aku muak melihat wajah sendumu setiap kali selesai bertengkar dengannya.

Dia pun menceritakan penyebab pertengkarannya sama ceweknya. Aku hanya mendengar dengan setengah hati. Bukan karena aku tidak peduli. Tetapi aku tahu penyebab pertengkaran mereka karena keegoisan ceweknya yang selalu ingin dimengerti.

Kadang aku lelah memberinya nasehat. Ingin rasanya untuk egois dan menyuruhnya untuk meninggalkan cewek itu. Dengan begitu aku bisa memberitahunya kalau aku menyayangi dia lebih dari sekedar sahabat.

***

Sampai suatu hari, Bang Putra datang ke rumahku. Dari raut wajahnya, aku bisa menebak kalau dia habis bertengkar lagi dengan ceweknya.

“Kusut amat wajahnya, Bang.”

“Iya, lupa nyetrika tadi pagi.” dia mencoba bercanda, tapi tetap tidak bisa menutupi kesedihannya.

Aku mempersilakannya duduk dan bersiap mendengar ceritanya.

“Bertengkar lagi?”

“Emangnya kami pernah gak bertengkar?”

“Malah nanya balik. Mana aku tahu.” Walaupun sebenarnya aku tahu dia lebih banyak menghabiskan waktu untuk bertengkar daripada bermesraan dengan kekasihnya.

“Kali ini lebih buruk. Aku gak sengaja mergokin dia dengan cowok lain. Katanya itu temannya. Tapi, masa iya kalau cuma teman sampai peluk-pelukan segala. Aku gak percaya dan terus bertanya.”

Brengsek tu cewek. Kurang baik dan pengertian apa lagi Bang Putra. Dia selalu mencoba mengalah demi menjaga hubungan mereka. Sekarang malah diselingkuhi. Pengen aku cakar-cakar wajah tu cewek.

“Dia akhirnya mengaku kalau itu cowoknya yang lain. Selingkuhannya. Dia gak bisa menerima aku yang terkadang gak bisa berada di sampingnya.

Aku gak bertanya-tanya apa lagi. Pengakuannya cukup untukku membuat keputusan untuk meninggalkannya.”

“Jadi, hubungan kalian berakhir?”

“Untuk apa aku pertahanin lagi? Dia sudah terbukti berselingkuh dan dia sudah mengakuinya.”

Aku mencoba menghiburnya. Di saat seperti ini dia sangat membutuhkan aku. Aku bisa merasakan sakit yang dia rasakan. Aku tidak peduli jika saat ini aku hanya dianggap adik olehnya. Aku akan tetap di sisinya untuk menemani dan menghiburnya sampai dia bisa menyembuhkan luka di hatinya. Dan biar waktu yang memutuskan kapan saat dia akan menyadari ada seseorang yang  selama ini diam-diam menyayanginya.

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome. & GeekyCube.