Cinta ‘kan Temukan Sendiri Jalannya

11 Juni 2008

“Maaf, aku gak bisa. Masih butuh waktu untuk menyembuhkan rasa sakit itu.”

“Kalau begitu ijinkan aku untuk menjadi pengobat rasa sakit itu, Lan.”

“Aku belum siap.Aku tidak ingin terluka lagi. Maaf.”

Aku tidak mengatakan apapun lagi. Jawabannya tepat seperti yang sudah ku perkirakan.  Dengan langkah berat, aku beranjak meninggalkannya membawa rasa sakit dan lega yang bersamaan. Sakit karena penolakannya, lega karena aku telah mengungkapkan apa yang ku rasakan padanya.

Berjalan tak tentu arah dengan hati yang masih tak menentu. Perlahan tetesan hujan pun ikut menemani langkahku, seolah mencoba untuk membasuh rasa sakit yang baru saja ku rasakan. I love to walk in the rain, cause no one see me crying.

***

“Maaf, aku sudah menganggapmu kakak.”

“Maaf, aku gak bisa menjadikanmu lebih dari seorang teman.”

“Kamu terlalu baik. Aku takut nyakitin kamu.”

“Aku ragu, kamu dekat dengan begitu banyak cewek dan memberi mereka perhatian yang sama seperti yang kamu berikan padaku. Maaf.”

Masih banyak daftar kata-kata penolakan lain yang pernah ku terima. Singkat ataupun berbelit-belit tetap intinya sama, ditolak. Aku muak!!! Aku tidak ingin menambah daftar kata-kata itu lagi.

Cukup!!! Tadi siang adalah terakhir kalinya aku mendengar kata-kata penolakan.

“Mulai besok, aku tidak akan jatuh cinta lagi!!! Biarkan saja hatiku mati, tidak mengenal lagi apa yang namanya cinta!!!” teriakku setengah tertahan.

April 2009

Hampir setahun ku lalui dengan kesendirian. Aku benar-benar menjauhi yang namanya cinta. Apa yang terjadi di bulan Juni yang lalu, ku anggap sebagai mimpi buruk. Berjauhan dengan cinta ada enaknya juga ternyata. Aku bisa lebih fokus mengejar impianku tanpa perlu memikirkan hal-hal yang tidak penting.

Aku mulai lupa bagaimana rasanya sakit, cemburu, mencintai, dan dicintai. Jika ada yang mencoba mendekatiku, aku lebih memilih untuk menghindar. Cinta adalah sesuatu yang semu dan penuh rasa sakit. Tanpa cinta pun, seseorang akan tetap hidup. Sebaliknya, karena cinta seseorang bisa memutuskan untuk mengakhiri hidupnya atau mengakhiri hidup orang yang dicintainya dengan berbagai dalih. Cinta hanya membuat orang menjadi buta bahkan gila.

Tidak jarang aku melihat headline berita yang berbunyi “Seorang pemuda bunuh diri karena cintanya ditolak”, “Sepasang remaja nekat bunuh diri karena tidak direstui orang tua”, dan banyak judul berita lain yang menunjukkan bagaimana cinta dapat mengubah seseorang menjadi gila.

Cinta juga bukan lagi sesuatu yang berharga. Dengan alasan cinta seorang cowok mempermainkan hati seorang cewek, padahal niat si cowok cuma untuk memenangkan taruhan dengan teman-temannya. Juga dengan alasan cinta seorang cewek akan rela menyerahkan keperawanannya pada sang pacar.

So, apa gunanya berdekatan dengan cinta?

***

“Hai. Kamu temannya Shinta?” sebuah pop-up chat masuk ke akun FB-ku. Aku tidak kenal siapa pemilik akun tersebut.

“Ya.” aku membalas singkat.

“Oh, salam kenal. Kamu teman kuliahnya?”

“Salam kenal juga. Gak, aku teman SMA-nya dia.”

Sebenarnya aku sedikit malas menanggapi chat tersebut. Tetapi, ada sesuatu yang memaksaku untuk menjawabnya.

Satu jam-an aku chat dengannya. Namanya Dina. Dia teman dari teman SMA-ku yang tadi ditanyakannya di awal chat. Ternyata anaknya asyik juga. Walaupun baru kenal entah mengapa aku merasa nyaman ‘ngobrol’ dengannya.

Semenjak chat pertama itu, aku jadi semakin sering chat dengannya. Dia biasa on-line sore hari. Banyak hal kami obrolkan di chat, mulai dari kuliah sampai hobi. Sifat, hobi, dan impian yang sama membuatku semakin dekat dengannya dan menikmati ngobrol dengannya. Sangat jarang aku menemukan orang yang memiliki pemikiran dan impian yang sama denganku. Suatu hal yang aneh, karena kami baru saja kenal. Dan itupun lewat dunia maya.

4 Desember 2009

Perkenalanku dengan Dina telah merubah janjiku. Kedekatanku dengannya beberapa bulan terakhir membuat cinta kembali mendekatiku. Kenyamanan yang ku rasakan saat ngobrol dengannya mulai menumbuhkan rasa cinta.

Aku tidak percaya cinta berhasil mendekatiku lagi. Perjuanganku untuk tidak lagi mempercayai cinta seakan sia-sia. Cinta kembali merangkulku dengan sayapnya. Tapi aku hanya menyimpan perasaan itu, tidak cukup berani untuk mengungkapkannya. Selain karena trauma masa lalu, aku dan dia juga dipisahkan jarak ribuan kilometer, dan kami belum pernah bertemu.

“Belum pernah bertemu?” sahabat dekatku bertanya dengan ekspresi tidak percaya.

“Sama sekali belum.”

“Dan mengapa kamu sangat yakin kalau kamu jatuh cinta padanya? Bertemu saja belum pernah.”

“Aku tidak tau. Bagiku tidak perlu alasan untuk mencintai seseorang.”

“Ya. Tapi ingat, kamu belum pernah bertemu. Kamu tidak tau seperti apa dia.” dia memberi tekanan pada kata ‘belum’.

“Aku tidak peduli. Bagiku fisik tidak penting. Aku juga sudah banyak mencari tau tentang dia kepada teman-temannya.”

“It’s up to you, bro. I just don’t wanna see you being hurt again.”

***

Sore ini, seperti biasa aku chat dengan Dina. Ngobrol ngalor-ngidul sampai tiba-tiba, dia mengirimkan chat yang membuat jantungku tiba-tiba berhenti berdetak.

“LDR-an kita, Ka?”

Ini pertanyaan serius atau cuma bercanda? Aku bingung. Sejenak aku terdiam, tidak tau akan menjawab apa. Inginku menjawab ‘ya’.

“Hah? Kita kan belum pernah ketemu.” Jawabku akhirnya.

Tiba-tiba dia off dari chat meninggalkanku dengan keterkejutan.

“Arghhh, harusnya ku jawab ‘ya’.” sesalku.

Tidak berapa lama dia kembali on-line. Saat chat lagi dengannya sedikitpun aku tidak menyinggung pertanyaan yang kemaren. Diapun begitu. Kami hanya mengobrol seperti biasa, seakan-akan tidak ada pertanyaan ‘LDR’ kemaren.

“Mungkin tadi dia cuma becanda.” aku mengira-ngira dalam hati.

18 September 2010

Aku sudah tidak sanggup lagi menyimpan perasaanku padanya. Menyimpan perasaan ini terlalu lama tanpa sedikitpun keberanian mengungkapkannya, ternyata lebih menyakitkan dibandingkan dengan saat ditolak. Menyimpannya lebih lama hanya akan menambah rasa sakit itu dan berujung pada penyesalan. Tidak, tidak boleh ada penyesalan.

I got to tell her. Apapun resikonya, aku siap. Lebih baik sakit karena ditolak daripada harus terus-terusan menyimpannya sendiri dan bertanya-tanya apakah dia juga merasakan hal yang sama. She deserves to fight for.” aku mencoba meyakinkan diri.

***

“Halo, Dina.” malam ini aku menelponnya.

“Ya. Ada apa, Ka?”

“Aku ingin kamu tau, aku sayang kamu.”

Dia hanya diam.

I don’t expect anything because telling this. Just hope there’ll be no regret in my heart for keeping this feeling all the time. Aku tau kita belum pernah bertemu, tapi aku gak peduli. I call it miracle of love, yang membuat cinta bisa hadir kapan saja tanpa memandang jarak dan waktu.” lanjutku.

“Kamu ingat pertanyaanku dulu yang mengajakmu LDR-an? Sekarang aku mau menanyakan hal yang sama sekali lagi. LDR-an kita, Ka?”

Kali ini aku yang terdiam. Cukup lama.

“Maksud kamu?”

“Aku sudah menunggu cukup lama untuk mendengar kamu mengatakannya. Cukup lama, sampai aku mengira kalau itu cuma khayalan yang tidak akan menjadi nyata. In simply words, I love you too, Raka.

***

“Declare your love before it’s too late. Because when they’re gone, no matter how loud you are, they wont hear.

“Don’t miss the chance to tell your loved ones how much they mean the world to you. Cause tomorrow could be too late.”

“The most painful is to love someone and never find the courage to let the person know how you feel.”

“Life’s to short to hide feelings. So don’t be afraid to tell people how you feel. You never know if they have the same feelings.”

“If love is meant to be, it’ll find its own way. In the right time, right person, and for the best reason. Because nothing can understand love except love its self”

  1. Elang
    Mar 29, 2011
    :Matabelo:
    Reply
Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome. & GeekyCube.