Edelweis

Kulirik lagi ransel besar yang tersandar di sudut kamar. Persiapan untuk melakukan pendakian besok telah tersimpan dengan baik di dalamnya. Ah, aku sudah tidak sabar lagi untuk kembali mandaki Marapi. Kali ini selain ingin menikmati keindahan pemandangan kotaku dari Puncak Marpati, aku juga punya tujuan khusus kenapa aku ingin mendaki Marapi.

Edelweis yang juga dikenal dengan nama Anaphalis Javanica adalah tujuanku kali ini mendaki Marapi. Aku ingin memetik bunga yang katanya bunga abadi dan merupakan perlambang dari cinta yang penuh ketulusan dan perjuangan. Disebut bunga abadi, karena bunganya yang terus awet dan berada di puncak gunung sebagai simbol keabadian. Lambang ketulusan, karena Edelweis tumbuh di daerah yang khusus dan ekstrem, sehingga seolah menerima keadaan apa adanya tanpa menuntut kondisi yang mengenakkan. Mengandung arti sebagai lambang perjuangan, karena bunga ini tumbuh ditempat yang tandus, dingin, miskin unsur hara dan untuk mendapatkannya harus bersusah payah mendaki gunung.

Aku tau bahwa setiap pendaki dilarang untuk memetik bunga ini. Tapi aku hanya ingin mengambil satu tangkai saja. Satu tangkai edelweis yang akan kuberikan kepada Laras. Entah darimana ide ini berawal, tapi aku sangat ingin memberinya edelweis.

Aku berangkat bersama beberapa teman. Kebetulan mereka ingin menghabiskan weekend ini dengan mendaki Marapi. Pendakian kami mulai dari daerah Koto Baru. Ini pertama kalinya aku mengambil jalur pendakian ini. Biasanya aku mendaki melewati jalur pendakian dari Badorai.

Matahari telah lama beranjak ke peraduannya dan udara dingin mulai menusuk menembus jaket yang kupakai. Sedikit lagi kami akan sampai di puncak. Aku menghisap rokokku untuk mengusir sedikit hawa dingin yang kurasakan. Beberapa kali kami bertemu rombongan lain yang juga sedang mendaki.

Tepat pukul sembilan malam, kami sampai di Puncak Marpati. Aku mengarahkan pandangan ke sekeliling. Menikmati pemandangan kotaku dari puncak Gunung Marapi ini. Sungguh pemandangan yang luar biasa.

Selesai menyantap bekal, kami beranjak turun mencari tempat untuk beristirahat malam ini. Besok subuh, kami akan kembali ke puncak ini untuk menikmati sunrise.

“Hey, Don. Kamu tau di sebelah mana edelweis tumbuh?”

“Di sebelah sana.” Jawab Doni sambil menunjuk ke satu arah.

“Jauh nggak?”

“Nggak terlalu. Mau ke sana? Ayo aku anter.”

“Hmm nggak usah. Aku ke sana sendiri aja.”

“Oke, hati-hati.”

Aku beranjak menjauhi rombongan menuju ke arah yang tadi ditunjuk Doni. Ternyata benar tempatnya tidak terlalu jauh. Dan sekarang di depan mataku disuguhi pemandangan edelweis yang menghampar.

“Aku hanya akan memetik satu. Satu edelweis yang paling indah yang ada di sini.” Aku berbisik dalam hati.

Aku mengedarkan pandangan mencari edelweis yang paling bagus penampakannya. Cahaya bulan membantuku untuk melihat lebih jelas. Dan aku menemukannya. Satu edelweis yang menarik mataku. Tumbuh di seberang tempatku berdiri. Aku berjalan mendekat dengan langkah kecil. Satu langkah salah, maka habislah.

Sekarang edelweis itu ada di genggamanku. Aku tersenyum senang. Akhirnya aku bisa mendapatkan edelweis, bunga abadi yang merupakan perlambang dari cinta yang penuh ketulusan dan perjuangan. Laras pasti akan senang menerimanya.

***

Aku terduduk bersimpuh di depan gundukan tanah merah yang masih belum kering. Air mata masih membasahi pipiku. Aku tidak percaya Ares meninggalkanku secepat ini. Baru kemaren aku melepasnya pergi untuk mendaki Marapi. Dan sekarang dia terbujur kaku di bawah gundukan tanah di depanku.

“Ares terjatuh saat mengambil edelweis. Sepertinya dia tidak sadar berada di pinggir jurang saat akan memetik edelweis itu.

Kami tidak bisa melakukan apa-apa. Saat kami temukan dia sudah tidak bernyawa.”

Aku menangis sesegukan. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutku, hanya air mata yang mewakili perasaan kehilanganku.

“Selamat jalan, Ares. Bahagialah di sana. Aku mencintaimu.” Ucapku dalam hati.

Aku menaruh setangkai edelweis di atas makam Ares. Edelweis yang ada di genggamannya saat menghembuskan nafas terakhirnya.

  1. felisha
    Jan 28, 2012
    Could you make Ares find his happy ending? It's not fair for him to face death over and over again.
    Reply
    • Zafri
      Jan 28, 2012
      Huahahahaha. Next time, I'll try.:D I'm sorry, Ares.:))
      Reply
  2. wonwon
    Jan 28, 2012
    hmm edelweis melambangkan keteguhan pendirian :)
    Reply
    • Zafri
      Jan 28, 2012
      Yup, dan jangan lupa meskipun dipetik edelweis tidak akan berubah bentuk dan warnanya.
      Reply
  3. wonwon
    Jan 28, 2012
    iyaaakah?? katanya ini bungan tahan lama, tapi ada yg bilang juga kalo edelweis ini susah banget metiknya :') #terharu
    Reply
    • Zafri
      Jan 28, 2012
      Asal diletakkan di suhu kamar, bunganya gak akan berubah. Bukan susah metiknya, tapi dilarang memetiknya.
      Reply
Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome. & GeekyCube.