Genessa Part #3

“Gagak. Raven.”

Raven sepertinya bukan hal asing baginya. RJ mencoba mengingat sesuatu yang bahkan dia sendiri tidak tau apa. Seiring usahanya untuk mengingat, bayangan dari mimpinya beberapa waktu terakhir muncul kembali di ingatannya.

“Ya, itu dia. Rave. Raven. Tapi apa hubungannya gagak ini dengan sosok pria yang aku panggil Rave di mimpiku? Dan mengapa mimpi itu terus berulang?”

RJ kemudian berbaring di ranjangnya mencoba tidak memikirkan apa-apa. Sementara di luar, hujan turun semakin deras diiringi angin kencang. Gagak yang bertengger di jendela kamar RJ menatap tajam sosok RJ yang kini terlelap, ada butiran bening yang jatuh dari mata sang gagak.

***

Siang mulai menjelang di Rye. Namun, tidak ada tanda-tanda matahari akan muncul. Hari ini akan menjadi salah satu hari terdingin di musim gugur tahun ini.

RJ masih meringkuk di balik selimutnya. Hujan di luar sudah tidak terlalu deras, pikirnya. RJ menoleh ke arah jendela. Gagak itu masih bertengger di sana. Ada rasa penasaran di hati RJ yang membuatnya bangkit dari tempat tidur dan berjalan mendekati jendela. Dia ingin melihat gagak itu lebih dekat.

RJ membuka jendela dan angin kencang memasuki kamarnya. Namun, gagak itu sama sekali tidak terganggu. Dia tetap berdiri di pinggir jendela kamar RJ, tidak terganggu sedikitpun saat RJ mendekat. RJ mengamati gagak itu. Tidak ada yang aneh dengan gagak ini cuma sorot matanya saja yang berbeda, bisik RJ. RJ mengumpulkan keberaniannya dan mengulurkan tangannya untuk menyentuhnya. Gagak itu mengangkat kepalanya sedikit seolah mengizinkan RJ untuk menyentuhnya.

“Apa aku mengenalmu?” tanya RJ kepada gagak itu.

Tanpa disangka gagak itu membuat gerakan seperti sebuah anggukan kecil. RJ mengucek matanya, berpikir itu hanya halusinasinya.

“Bagaimana mungkin seekor gagak akan menjawab.” RJ berkata pada dirinya sendiri dan tertawa. Tapi rasa penasaran mengalahkan argumentasinya. RJ kembali mengulangi pertanyaannya. Dan benar si gagak memberinya anggukan kecil.

“Aku pasti masih bermimpi. Tidak mungkin seekor gagak bisa mengerti pertanyaan manusia. Apalagi mengangguk. Tidak mungkin.”

“Kau tidak sedang bermimpi, Putri.” Sebuah suara terdengar di kepala RJ. Suara yang dalam dan penuh wibawa. Tapi, suara yang muncul di kepala? Bagaimana mungkin?

“Mungkin aku berhalusinasi.” RJ menutup jendela dan kembali ke tempat tidurnya.

Sepertinya hari ini tidak hanya akan menjadi hari terdingin di Rye.

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome. & GeekyCube.