Hidangan Istimewa

“Apa kabarmu?” Tanyaku sambil mengecup pipinya.

“Aku kangen kamu.”

“Aku tau. Aku juga kangen.”

Aku memeluknya sebentar dan kemudian menggenggam tangannya. Kami melangkah menyusuri mall yang hari ini sangat ramai. Maklum weekend. Seperti biasa tidak ada tujuan yang jelas saat kami berada di mall. Kami berkeliling sampai merasakan capek dan kemudian akan pergi ke tempat makan.

“Mau makan di mana?” aku bertanya setelah capek memutari mall.

“Aku tidak tau. Terserah kamu aja.”

“Mau masakan Jepang?”

“Tentu saja.”

“Baiklah, bagaimana kalau hari ini kita makan di rumahku saja? Aku akan memasakkan masakan Jepang yang istimewa untukmu.”

Dia memandangku dengan tatapan tidak percaya.

“Kamu tidak percaya, ya? Aku akan buktikan nanti.”

Diam-diam beberapa minggu terakhir, aku mengikuti kursus masakan Jepang. Dan saat ini aku sudah menguasai beberapa masakan Jepang. Aku ingin memberinya kejutan dengan membuatkan satu masakan spesial. Dia pasti akan menyukainya. Mana bisa dia menolak tawaran masakan Jepang.

Sesampai di rumah, aku memintanya menunggu di ruang tamu sementara aku menyiapkan hidangan yang  sangat istimewa. Bahan-bahannya telah aku siapkan sejak tadi pagi sebelum kami bertemu. Aku tersenyum membayangkan bagaimana ekspresinya saat menikmati masakan yang kubuat khusus untuknya ini.

Here they are.

Dia memandang takjub. Di meja makan aku telah menghidangkan dua masakan Jepang.

“Kamu benar-benar bisa memasak masakan Jepang.”

I am. Silahkan dinikmati.”

Dia duduk dan mengambil sumpit. “Itadakimasu.” Serunya dan memasukkan sepotong sushi ke mulutnya.

Oishii ne.” ujarnya.

Aku hanya tersenyum kecil.

“Selanjutnya kamu harus cicipi ini.”

“Ini apa? Aku belum pernah melihat masakan Jepang seperti ini.”

“Ini ikan buntel.”

Dia mengambil satu potong besar. Dia mengunyahnya dengan pelan, menikmati setiap kunyahannya.

“Wah, ini benar-benar enak.”

“Tambah lagi kalau begitu.” Aku menggeserkan piring ke dekatnya.

Dia mengambil dengan bersemangat. Tidak beberapa lama dia terdiam.

“Kenapa? Apa rasanya berbeda dengan yang pertama tadi?”

Dia tidak menjawab sama sekali. Matanya terbelalak. Nafasnya tidak teratur. Dan tidak beberapa lama, dia terkulai. Tidak bergerak.

Aku berdiri dan tersenyum.

“Nikmat bukan? Fugu atau ikan buntel adalah ikan yang beracun. Hati dan kulitnya mengandung racun. Untuk menghidangkannya haruslah koki terlatih. Sedikit kandungan racun akan membuatnya nikmat dan membuatnya mahal.

Namun, jika tidak terbiasa mengolahnya dan banyak kandungan racun yang tercampur ke dagingnya maka si pemakan akan mengalami kekakuan otot dan kesulitan bernapas sampai akhirnya meninggal.

Itulah yang terjadi padamu, sayang. Aku mencampur cukup banyak kandungan racun ke dagingnya, khusus untukmu.

Terimakasih untuk pengkhianatanmu.”

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome. & GeekyCube.