Homesick

Tidak biasanya pagi ini terbangun dengan kerinduan akan kampung. Apa karena beberapa hari ini sering mikir untuk pulang. Atau karena besok tepat 11 tahun adikku pergi dan kembali tidak bisa hadir untuk ziarah.

Terletak di dekat sebuah kota kecil yang cukup terkenal dengan obyek wisatanya, tidak jarang penduduk kampungku menyebut diri mereka berasal dari kota tersebut. Padahal kampungku dan kota itu adalah daerah yang berbeda, dari segi pemerintahan. Kampungku adalah bagian dari Agam bukan Bukittinggi.

Letaknya yang cukup jauh dari pusat kabupaten, membuat banyak penduduk kampungku lebih sering menghabiskan waktu di Bukittinggi. Entah itu bekerja, sekolah, ataupun sekedar berjalan-jalan keliling kota. Selain karena faktor jarak, Bukittinggi juga memiliki cukup banyak tempat wisata. Dan yang paling sering dikunjungi adalah sebuah monumen yang mirip dengan Big Ben di Inggris, tapi dengan puncak berupa atap Rumah Gadang.

Kampungku terletak di kaki sebuah gunung, Gunung Marapi. Oleh karena itu, sensasi dingin luar biasa akan terasa saat berada di kampungku. Sensasi dingin dan udara segar inilah yang aku rindukan. Bangun di pagi hari dan merasakan dinginnya udara pegunungan menjadi suatu kenikmatan tersendiri bagiku.

Itu suasana beberapa tahun yang lalu. Saat kepulanganku yang lalu, udara dingin yang aku rindukan tidak seperti dulu lagi. Tidak lagi menusuk-nusuk kulit. Sawah-sawah yang dulu terlihat sepanjang jalan, telah berubah menjadi perumahan. Ditinggal beberapa waktu saja begitu banyak perubahan yang terjadi di kampungku. Saat kepulanganku selanjutnya, akan ada perubahan apa lagi yang akan ku lihat dari kampungku? Dan tidak akankah ku rasakan lagi udara dingin yang sangat ku rindukan itu? Ah, there’s other reasons to go home but can’t find the best one right now.

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome. & GeekyCube.