Masihkah Aku

Tempat ini selalu menjadi pelarianku. Berada jauh dari hiruk pikuk keramaian. Dan yang terpenting tidak ada yang tau tempat ini selain aku. Aku menyesap kopi yang ada di depanku. Biasanya kafein mampu menenangkan pikiranku. Namun tidak kali ini. Mungkin ditambah sebatang rokok akan lebih baik pikirku.

“Berapa batang lagi yang akan kamu habiskan? Itu rokok keenam yang kamu hisap dalam setengah jam terakhir. Tidak biasanya.” Sebuah suara mengganggu lamunanku.

Aku mengabaikan si pemilik suara, tidak menoleh sedikitpun. Aku tau dengan pasti siapa dia. Satu-satunya orang yang pernah aku beri tau tentang tempat ini. Dia yang biasanya selalu mengisi hari-hariku. Dia yang beberapa bulan terakhir menjadi orang yang berbeda. Dia yang tidak lagi aku kenal.

“Maaf jika kedatanganku mengganggumu. Mengusikmu yang sedang ingin sendiri.”

Aku menghela napas panjang. Aku masih mengabaikannya. Walaupun sebenarnya aku ingin berteriak kepadanya. Menanyakan ke mana dia beberapa bulan terakhir. Kenapa dia menjadi begitu berbeda. Apa dia tidak tau aku mencemaskannya. Apa dia tidak tau aku merindukan berbagi cerita dengannya. Apa dia tidak tau aku merindukannya.

“Aku tidak ke mana-mana. Aku masih di tempat yang sama, menunggu kamu datang dan menghabiskan waktu dengan bercerita atau melakukan hal-hal gila denganku. Bukan hanya aku yang menjadi berbeda, kamu juga.”

Aku tidak suka saat dia membaca apa yang aku pikirkan. Dia dengan mudah bisa menemukan apa yang aku sembunyikan. Katanya, aku dan dia memiliki ikatan yang tidak biasa. Terkadang aku bisa mengetahui apa yang sedang dia lakukan di tempat yang jauh tanpa aku harus bertanya. Bahkan aku pernah tiba-tiba merasakan manisnya teh tarik yang dia minum saat berjauhan denganku.

“Masihkah aku memiliki arti yang besar di hidupmu? Masihkah aku yang mengutuhkan kamu? Aku tau kamu kuat tanpa aku. Banyak hal yang sudah kamu hadapi seorang diri sebelum bersamaku. Namun bukankah kamu pernah mengatakan, setelah bersamaku kamu merasa jauh lebih kuat. Karena kamu bisa berbagi denganku. Karena ada aku yang bisa mengerti semua tentang kamu bahkan sampai hal terkecil sekalipun.

Sekarang kamu ingin menghadapi semuanya sendiri? Menghancurkan diri kamu sendiri? Kamu tidak perlu memberikan jawabannya kepadaku. Cukup jujur sama diri kamu sendiri.”

Ucapannya menyerangku. Dia tau apa yang sedang kuhadapi. Selalu tau. Andai saja aku bisa menghilangkan ikatan aneh yang ada di antara kami. Agar dia tidak perlu tau apa yang kupikirkan, apa yang kurasakan.

Hembusan angin membangunkanku. Aku melihat ke sekeliling, tidak ada dia di manapun. Aku masih sendirian di tempat ini. Kemudian aku tersenyum. Tidak, aku tidak sendirian.

  1. peripermen
    Nov 05, 2015
    baru baca dua tulisan, dan udah jatuh cinta.. <3
    Reply
Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome. & GeekyCube.