Pergi

Aku terus menatap matanya, berharap menemukan jawaban akan perubahan sikapnya yang mendadak hari ini. Aku bisa merasakan ada sesuatu yang salah. Ada yang menjadi beban pikirannya.

“Kenapa? Apa yang kamu pikirikan?” Aku kembali bertanya.

Ares tetap diam sementara matanya menerawang jauh. Mengabaikan pertanyaanku.

“Aku tidak suka melihat kamu seperti ini. Menyimpan semuanya sendiri. Bersikap seakan aku tidak ada di sampingmu untuk menjadi tempatmu berbagi.”

“Aku tidak apa-apa.”

Sebuah kebohongan dia berikan sebagai jawaban pertanyaanku. Ada sepercik emosi di dadaku. Kenapa dia tidak mau membagi masalahnya denganku?

“Bohong!”

Dia kembali diam. Larut dalam pikirannya sendiri. Aku merebahkan kepala di bahunya berharap dia akan menyadari kehadiranku dan berbagi semuanya denganku. Namun, dia bergeming. Aku tidak lagi memaksanya menjawab pertanyaanku.

“Aku ingin pergi. Pergi, meninggalkan kamu.” Akhirnya dia memecah keheningan.

Dadaku sesak mendengarnya. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar untuk menjalani sebuah hubungan. Begitu banyak rintangan yang harus kami hadapi untuk menjaga hubungan ini. Setelah semua usaha kami untuk bertahan memperjuangkan cinta yang ada di antara kami, sekarang dia mengatakan ingin pergi. Apa artinya semua usaha itu? Apa artinya membawa hubungan kami sampai sejauh ini?

“Kenapa?”

“Aku pikir kamu pantas mendapatkan yang lebih baik dariku. Orang yang bisa membuat kamu bahagia.”

Bagaimana mungkin aku mencari pengganti dirimu. Bagiku, kamu adalah sosok yang sempurna. Kamu orang yang paling mengerti aku bahkan di saat aku tidak mengerti akan diriku sendiri. Bersamamu aku merasa aman dan bisa menjadi diriku sendiri. Kamu peganganku saat aku berada di titik terendah hidupku.

“Dan jika aku katakan kamu adalah orang yang paling pantas mendapatkanku, apa kamu akan berhenti berpikir untuk pergi?”

Kembali tidak ada jawaban darinya. Dia merengkuh dan memelukku dengan erat.

I love you, Kirana.” Bisiknya.

I love you too.”

“Maaf.”

“Maaf? Untuk apa?”

“Karena ingin pergi darimu. Ini bukan pertama kalinya aku berpikir untuk pergi darimu. Namun, aku tidak pernah benar-benar punya kekuatan untuk meninggalkanmu. Aku tidak menemukan satupun alasan yang mampu menguatkanku untuk meninggalkanmu.”

So, don’t leave. Stay here with me. Kita akan hadapi semuanya berdua. We’ll get our happy ending.”

***

Kirana, semenjak kehadiranmu aku lupa bagaimana rasanya hidup dalam kesendirian. Kamu memberi warna baru dalam hidupku. Kamu mengajarkanku bagaimana rasanya mencintai dan dicintai. Hidupku terasa lebih sempurna dengan kamu menemani hari-hariku.

Aku masih ingat dengan jelas bagaimana pertemuan pertama kita. Pertemuan yang menjadi awal dari pertemuan-pertemuan selanjutnya yang perlahan menumbuhkan benih-benih cinta di hati kita masing-masing. Nothing’s coincident, everything happens for a reason. Seperti pertemuan kita.

Aku masih ingat saat pertama kita berpegangan tangan dengan malu-malu. Pelukan pertama untuk berbagi kehangatan saat kita nekat pergi ke tempat kesukaanmu tanpa memakai jaket, padahal tempatnya sangat dingin. Ciuman pertama yang kita lakukan di beranda rumahmu.

Ya, aku ingat setiap momen yang kita lewati bersama. Aku merekam semuanya di pusat ingatanku. Aku akan memutar ulang semuanya saat kita berjauhan agar aku tidak kesepian dan merasakanmu ada di dekatku. Walaupun sebenarnya kamu tidak pernah jauh. Kamu selalu ada di dekatku, di hatiku.

Apa kamu juga mengingat semua itu, Kirana? Aku tau, kamu pasti masih mengingatnya. Seperti aku, kamu juga menyimpan semua memori itu.

Kamu ingat saat aku mengatakan ingin pergi meninggalkanmu? Saat itu aku benar-benar berpikir untuk meninggalkanmu. Bukan karena aku capek ataupun tidak mencintaimu lagi. Itu karena aku terlalu mencintai kamu. Aku tidak ingin kamu melihat kamu menderita denganku sementara kamu bisa lebih bahagia dengan orang lain. Mungkin dengan dia, orang yang dipilihkan orang tuamu.

Namun, aku tidak pernah benar-benar sanggup untuk meninggalkanmu. Aku tidak menemukan kekuatan untuk meninggalkanmu. Dan aku putuskan untuk tetap bertahan berada di sisimu memperjuangkan cinta kita sampai aku tidak lagi punya kekuatan untuk bertahan. Atau sampai penyakit ini merenggutku lebih dulu.

Aku sakit, Kirana. Sakit yang aku sembunyikan darimu karena aku tidak ingin melihatmu sedih saat mengetahuinya. Aku tau kamu akan membantuku melawan penyakit ini jika kamu mengetahuinya. Namun, aku tidak ingin membebanimu. Maafkan aku, Love.

Kamu tau, beberapa hari yang lalu aku menonton ulang “A Walk To Remember”. Aku menemukan satu adegan saat Jamie mengucapkan I love you kepada Landon persis seperti cara kita mengucapkannya. Aku tercekat saat melihatnya dan berpikir apa cerita kita akan berakhir seperti “A Walk To Remember” juga? Atau akan berakhir seperti “The Notebook” yang dulu pernah kita tonton berdua? Tidak, ini cerita kita. Kita yang akan menentukan bagaimana akhirnya, bukan orang lain ataupun meniru film tertentu. We’re the author of our life.

Kirana, maafkan aku jika suatu hari nanti aku benar-benar pergi meninggalkanmu. Bukan karena aku tidak lagi mempunyai kekuatan untuk bertahan. Aku masih punya kekuatan itu. Kamu.

Aku pergi karena penyakit yang semakin menggerogoti tubuhku. Penyakit yang perlahan merenggutku darimu. Penyakit yang memaksaku merubah akhir dari cerita kita.

Kirana, jika aku benar-benar pergi aku mohon jangan menangis. Jangan ratapi kepergianku. Aku pergi dengan membawa cintamu untukku. Sedangkan cintaku akan abadi menemanimu walaupun tanpa aku di sisimu.

I love you, Kirana. I really do.

Aku mendekapkan surat dari Ares ke dadaku. Airmataku tidak berhenti menitik. Tidak akan kudengar lagi ucapan sayang yang selalu dibisikkannya saat kami bertemu. Tidak akan ada lagi pelukan hangat dan kecupan mesra itu. Pagi ini, Ares pergi meninggalkanku. Pergi selamanya.

“Sampai jumpa, Love. Tidak lama lagi kita akan kembali bertemu dan melanjutkan cerita kita.”

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome. & GeekyCube.