Sandiwara

“Bagaimana jika selama ini aku tidak pernah mencintaimu?”

Sebuah pertanyaan terlontar dari mulutnya di tengah kebersamaan kami di sebuah café yang biasa kami datangi. Aku menatapnya. Heran.

“Pertanyaan macam apa itu?”

“Bagaimana jika aku katakan kepadamu bahwa selama ini aku tidak pernah mencintaimu?” kali ini suaranya sedikit tegas.

Aku terdiam. Mencoba menemukan kebohongan di wajahnya. Biasanya aku akan dengan mudah menemukan tanda-tanda saat dia berbohong. Namun tidak kutemukan kali ini.

Aku tau dia memang sangat pintar bersandiwara. Memasang topeng yang sesuai bergantung dengan siapa yang sedang dihadapinya. Namun, tidak pernah berhasil untukku. Aku selalu tau saat dia berbohong. Cukup dengan memperhatikan ekspresi mikro yang muncul di wajahnya, aku akan tau. ‘Jangan pernah membohongi seorang pembohong’ adalah jawabanku setiap kali dia bertanya bagaimana aku bisa tau dia berbohong.

“Aku tidak percaya. Setelah selama ini. Setelah semua yang kamu pertaruhkan.”

“Lihat aku. Aku tidak pernah mencintaimu. Aku melakukan semuanya cuma untuk have fun. Suatu kebanggaan bisa merebut hatimu dari orang lain yang dulu begitu kamu puja. Semua yang aku katakan kepadamu selama kebersamaan kita tidak lebih dari sebuah kebohongan.”

“Aku masih tidak percaya.”

Dia menghela napas. Sepertinya marah karena aku tidak mempercayai kata-katanya. Aku tersenyum. Masih mencoba mengamati setiap perubahan ekspresinya.

“Terserah! Bagiku kamu cuma permainan. Sebuah tantangan yang harus aku kalahkan untuk membuktikan bahwa aku bisa mendapatkan apapun yang aku inginkan.” Sebuah senyuman sinis mengiringi ucapannya.

Harusnya aku percaya saja. Namun, aku merasa ada sesuatu yang salah. Kenapa tiba-tiba dia mengatakan ini semua? Apa sudah puas karena telah membuktikan bahwa dia berhasil mendapatkanku?

Aku mencoba mengingat apa yang terjadi beberapa hari belakangan. Tidak ada yang salah. Rutinitas pertemuan kami berjalan seperti biasa. Canda, tawa, dan kegilaan tetap menjadi bagian hubungan kami. Walaupun sesekali ada air mata.

Aku masih tersenyum.

“Jika memang aku cuma untuk have fun bagimu, kenapa kamu berkorban sebanyak itu untukku?”

“Bagian dari skenario yang aku buat.”

“Dan air mata yang kamu keluarkan? Bagian dari skenario juga?”

“Ya.”

“Coba katakan sekali lagi kalau kamu tidak mencintaiku.”

Dia menarik napas panjang dan memejamkan matanya beberapa saat.

“Aku tidak mencintaimu. Semuanya cuma untuk have fun. Tidak lebih.”

Aku balas menatapnya. Mencoba menerima semuanya. Ada air mata yang mencoba menerobos keluar dari kelopak mataku. Namun aku tahan. Aku tidak akan menangis di depannya. Dia akan bertambah bahagia jika aku menangis di depannya. Menyalutkan kemenangannya.

“Baiklah. Kalau begitu terimakasih untuk semuanya. Terimakasih kamu sudah berkorban begitu banyak untukku. Maaf karena kamu harus menambahkan air mata ke dalam skenario yang kamu buat. Kamu memang aktris yang hebat.”

Aku beranjak dari kursiku dan berjalan keluar dari café itu. Di luar, aku berdiri dan mengetikkan satu pesan singkat untuknya.

“Jangan pernah membohongi seorang pembohong. Kalau ingin membohongiku, berusahalah lebih keras. Tatapan mata dan sudut bibirmu saat bicara mengungkapkan kalau kamu berbohong. Satu lagi, jangan terlalu lama berpikir saat kamu akan mengatakan kebohongan. Sekarang hapus air mata yang menggenang di sudut matamu. Aku tunggu di luar.”

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome. & GeekyCube.