Surat untuk Dara

Dear Love,
Masih belum hilang dari ingatanku malam-malam yang kulewatkan denganmu di bukit itu. Dan seperti janjiku, aku tidak akan mengajak orang lain ke sana selain kamu. Love, apa kamu tau? Aku masih sering ke bukit itu. Sendirian. Membiarkan kenangan akan mu memenuhi memori otakku dan kemudian aku akan pulang dengan wajah dibasahi air mata.

Aku merindukanmu, Love. Merindukan protesmu saat menemaniku menonton televisi. Aku merindukan semua tentangmu.

Love, aku percaya pasti ada alasan mengapa kita bertemu. Mengapa kamu masuk ke hidup aku. Dan setelah kamu pergi, aku mengerti. Kamu datang ke hidupku untuk menunjukkan bahwa cinta itu ada. Dan setiap orang pantas untuk dicintai.

Jika kita bisa meminta waktu pada Tuhan, berapa banyak waktu yang akan aku minta? Seperti yang dulu aku katakan, tidak akan pernah ada cukup waktu untuk kita. Waktu berlalu dengan cepat saat kita bersama. Waktu seolah iri dengan kebersamaan kita. Makanya aku memanfaatkan setiap detik yang kulewati bersamamu sebaik-baiknya.

Love, aku tau besarnya cintamu untukku. Sedikitpun aku tidak pernah meragukannya. I love to be loved by you. Terimakasih telah datang ke hidupku. Tidak ada penyesalan di hatiku pernah mengenalmu. Apalagi mencintaimu.

Love, tunggu aku di sana. Akan tiba waktunya bagiku untuk menyusulmu. Di sana, kita akan melanjutkan cerita kita yang belum selesai dan tidak akan pernah selesai. Tidak akan ada lagi waktu yang membatasi kebersamaan kita nanti di sana.

***

“Aku merindukanmu, Love. Tunggu aku di sana.” Aku mengecup nisannya dengan air mata yang perlahan membasahi wajahku.

Aku melipat surat di tanganku dan menaruhnya di atas makam Dara. Hari ini, tepat sebulan kepergiannya.

 

 

Balasan dari Surat untuk Jaka

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome. & GeekyCube.