The Journey Part 3 (Ale’s Side)

Aku masih tenggelam dengan novel di tanganku. Ceritanya benar-benar mempesona imajinasiku. Aku biarkan diriku larut ke dalam ceritanya, seakan-akan aku melihat langsung tokoh-tokoh di novel ini. Saat membaca aku bisa melupakan semuanya dan masuk ke dunia baru yang disajikan penulisnya. Apalagi saat membaca fantasi, imajinasiku akan berkelana bebas menikmati setiap alur cerita yang disajikan.

Namun, kali ini aku tidak bisa untuk benar-benar larut dalam bacaanku. Sesekali aku diganggu pikiranku tentang wanita yang duduk di sebelahku. Dari raut wajahnya aku tau ada beban yang cukup berat di pikirannya.

Andai dia bisa sedikit lebih terbuka, mungkin aku bisa membantunya. Bukan bermaksud mencampuri urusannya, aku hanya ingin dia melupakan sedikit bebannya dengan berbagi dan kemudian menikmati perjalanan panjang ini. Sayang, jika perjalanan panjang ini disia-siakan. Ada banyak hal yang bisa dinikmati selama perjalanan ini.

Busku memasuki Pelabuhan Merak dan bergerak perlahan menuju dermaga di mana kapal yang akan kami naiki bersandar. Sudah ada beberapa bus lain, truk pengangkut sembako, dan juga beberapa mobil pribadi yang juga bersiap untuk menaiki kapal. Busku pun ikut antrean. Sepertinya masih ada cukup waktu untuk merokok di luar sebelum bus menaiki kapal.

Selain aku, ada beberapa penumpang yang juga beranjak dari bangkunya menuju pintu bus. Sepertinya mereka punya pikiran sepertiku, untuk merokok. Ataupun ingin membeli camilan untuk nanti di atas kapal, karena nanti di atas kapal harganya akan naik sekian kali lipat.

“Kamu tidak turun? Masih beberapa saat lagi kita naik kapal.” Aku menegur wanita di sampingku.

Dia hanya mengangguk dan aku meneruskan perjalananku menuruni bus. Di luar bus, aku membakar rokok yang sedari tadi tersimpan di kantongku. Aku menghisapnya dan menikmati rasa tembakau yang terbakar. Ya, rokok telah menjadi teman baikku beberapa tahun belakangan.

Aku melihat wanita yang tadi duduk di bangku sebelahku turun dari bus dan menuju sebuah warung. Aku mengamatinya sambil terus menghisap rokokku. Tampaknya dia belum terbiasa dengan perjalanan jauh dan mungkin ini yang pertama baginya. Keluar dari warung dia berjalan ke tepi dermaga. Memandangi hamparan Selat Sunda.

Aku berjalan mendekatinya.

“Kamu sendirian?” Dia menoleh namun tidak menjawab.

“Aku selalu suka memandangi air laut. Nampak tenang dan misterius. Indah, ya?” Aku melanjutkan.

Dia masih diam seakan tidak memedulikan kehadiranku.

“Kamu ga bawa barang banyak, tujuannya ke mana?”

“Hmm bakalan lama di sana?”

“Masih lama kita naik kapal?” Akhirnya dia bersuara.

“Sejam lagi kurang lebih. Menunggu antrian.” Sahutku sambil menunjuk ke antrean beberapa kendaraan di depan bus yang mengangkut kami.

“Selama itu kamu akan mengganggu aku dengan pertanyaan-pertanyaanmu? Kalau iya sebaiknya aku pindah tempat, karena aku tidak suka diganggu.”

Aku diam. Dia benar-benar tidak mau diganggu. Aku membuka novel yang ikut kubawa turun dan melanjutkan membacanya ditemani tiupan angin yang membisikkan lagu rindu. Rindu akan kampung halamanku.

  1. The Journey Part 3 (Hana’s Side) « SquareCube
    Feb 18, 2012
    [...] The Journey Part 3 (Ale’s Side) [...]
    Reply
Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome. & GeekyCube.