The Journey Part 4 (Ale’s Side)

Dari kejauhan aku melihat bus yang aku tumpangi mulai bergerak pelan. Berarti bus akan segera naik ke kapal. Aku berlari mendekatinya. Dengan tersengal-tersengal aku naik ke bus. Wanita yang duduk di sebelahku ternyata sudah naik dari tadi. Dia terlihat asyik dengan earphone di telinganya. Tidak mempedulikan aku yang melihat ke arahnya.
Setelah bus terparkir, para penumpang mulai turun dan berjalan menuju dek atas. Ya, tidak boleh ada yang tinggal di dalam bus selama bus ada di atas kapal. Mesin bus pun harus dimatikan. Aku mengambil ranselku dan ikut bergabung dengan barisan menuju dek atas.

Kebiasaanku saat berada di kapal, tidak pernah berada di dalam ruangan. Aku lebih memilih berdiri di luar menikmati pemandangan dan hembusan angin. Menyenangkan. Dan karena kali ini aku menaiki kapal di sore hari berarti aku akan menikmati sunset di atas kapal. It’ll be interesting.

Aku berdiri di pinggir dek. Menghirup udara laut dalam-dalam. Aku tahan keinginan untuk merentangkan tanganku. Sebatang rokok kembali aku bakar dan menghisapnya pelan. Aku mengedarkan pandangan ke laut lepas. Beberapa kali, aku pernah melihat segerombolan lumba-lumba yang berenang di dekat kapal. Seolah memanggilku untuk ikut berenang bersama mereka.

Tidak jauh dari tempatku berdiri, ada beberapa orang yang menaiki bus yang sama denganku. Di antaranya, pasangan suami istri yang duduk di bangku bagian tengah bus.

“Kamu menyukainya?” Sayup-sayup aku mendengar suara si pria yang terbawa angin ke arahku.

“Tentu saja aku menyukainya. Laut dan pantainya selalu menarik bagiku. Selalu bisa membuatku tenang. Lupa akan semua permasalahan.” Kali ini si wanita yang berbicara.

“Masih sama seperti saat pertama kali aku mengenalmu.” Si pria memeluk istrinya. Erat.

Ada sedikit rasa iri yang muncul saat melihat kemesraan di antara mereka. Aku mengalihkan pandangan ke arah lain. Aku melihatnya. Wanita yang duduk di sebelahku di bus. Seperti saat di pelabuhan, dia sendirian dan memandang lautan dengan pandangan kosong. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Aku tidak lagi bergerak mendekatinya. Membiarkannya menikmati kesendiriannya.

Tiba-tiba dia menoleh ke arahku. Mata kami bertatapan. Dia tersenyum dan dengan cepat mengalihkan pandangannya lagi.

Ah, mungkin saja itu hanya ilusiku. Tidak mungkin dia benar-benar tersenyum kepadaku.

Senja pun mulai menjelang. Di barat, matahari perlahan mulai kembali ke peraduannya. Cahaya jingganya terpantul di beningnya air laut. Sementara itu kapalku bergerak semakin mendekati Bakauheuni. Semakin memperkecil jarakku dengan kampungku. Aku benar-benar sudah tidak sabar.

  1. nufuszahra
    Mar 10, 2012
    Ditunggu the journey part 5 nya om kibo... Kalo bisa disisipi bahasa minangnya ya... :kiss
    Reply
Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome. & GeekyCube.