The Journey Part 6 (Ale’s Side)

Aku berjalan menuju dek kiri di mana mushalla berada. Minatku untuk memotret lumba-lumba tiba-tiba hilang. Pikiranku dipenuhi bayangan Tara. Sesampai di mushalla, aku duduk dan mengeluarkan dompetku. Aku memandang sebuah foto yang masih tersimpan rapi di sana. Fotoku bersama Tara yang diambil saat kami pergi liburan. Tanpa sadar air mata membasahi pipiku.

“Aku merindukanmu, Tara. Kenapa kamu pergi meninggalkanku?” Aku terisak.

Masih teringat jelas di benakku saat-saat bersama Tara. Bagaimana senyumnya, caranya memelukku, caranyanya bermanja-manja. Aku rindu semua itu. Aku ingin mengulanginya lagi dan lagi. Mencintainya adalah candu bagiku. Keberadaannya di sampingku adalah suatu keharusan. Tanpanya aku tidak lengkap. Dia yang mengajarkanku untuk kembali percaya pada yang namanya cinta. Dia yang mengerti bagaimana mengendalikan keras kepalaku.

Namun, kebersamaanku dengannya tidak mungkin terulang lagi. Tuhan memutuskan kebersamaan kami sudah cukup. Sehingga Dia merebut Tara dariku. Mengambil Tara untuk berada di sisi-Nya. Ya, Tara sudah meninggal. Sebuah kecelakaan tiga bulan lalu merenggut nyawanya.

Aku sudah mengikhlaskan kepergiaannya. Namun, aku tidak akan pernah menghilangkannya dari ingatanku. Tara memiliki tempat khusus di hati dan ingatanku. Sampai kapanpun dia akan tetap di sana.

Sebulan yang lalu tepat dua bulan setelah kepergian Tara, Ibunya datang ke kontrakanku. Ibu Tara menyerahkan sebuah diary. Katanya itu adalah pesan Tara seandainya terjadi sesuatu kepadanya.

“Maaf jika Ibu terlambat memberikannya kepadamu. Maafkan juga karena Ibu telah membaca isi diary itu. Seandainya Ibu tau dari dulu betapa besarnya perasaan Tara kepadamu, Ibu tidak akan memaksakan kehendak kepada Tara. Tara tidak perlu pergi malam itu dan kecelekaan itu tidak perlu terjadi.” Ibu Tara mengusap air matanya dan pamit pulang. Saat itu aku tidak tau apa maksud perkataan Ibu Tara. Dan mengapa beliau menangis.

Malamnya, aku membaca diary Tara. Hari-hari yang dilewatinya bersamaku terdokumentasi di sana disertai ucapan kebahagiaannya bisa bersamaku. Senyum dan air mata menemaniku saat mengingat kembali semua kenangan yang tertulis di sana. Sampai di halaman terakhir yang ditulis Tara, di hari kecelakaan itu.

10 April

Tau bagaimana sakitnya saat kamu harus berpisah dengan orang yang kamu sayangi, bukan karena ketidakcocokan, dan bukan juga karena keegoisan masing-masing. Tapi, karena orang tuamu telah memilih orang lain yang menurut mereka lebih baik untukmu.

Aku tau bagaimana sakitnya. Itu yang aku rasakan saat ini. Ibu memintaku untuk memutuskan hubunganku dengan Ale, orang yang sangat kucintai. Menurutnya, Ale tidak mempunyai masa depan. Hidupku tidak akan bahagia dengannya. Menurutku kebahagiaan itu relatif. Dan aku tidak memandang kebahagiaan itu dari tersedianya harta. Bagiku, bahagia adalah saat aku bersama orang yang kucintai. Sesulit apapun keadaan kami.

Bukan aku takut untuk melawan Ibu. Aku bisa saja memaksa Ale untuk membawaku pergi dari kota ini agar aku tidak perlu menuruti keinginan Ibu. Namun, aku tau hati Ibu akan terluka. Aku tidak sanggup melihat Ibu sedih. Sempat terpikir juga olehku untuk bunuh diri. Tapi, aku tidak pernah sanggup untuk sekedar mengiris lenganku.

Aku ingin Ibu tau bagaimana besarnya perasaanku pada Ale.

Tulisan Tara pada 10 April itu tidak pernah selesai. Karena, pada hari itu dia dipaksa bertemu dengan orang yang akan dijodohkan Ibunya dengannya. Di hari itu juga Tara mengalami kecelakaan sepulangnya bertemu dengan lelaki itu.

 

“Foto siapa itu?” tiba-tiba suara Hana terdengar di sebelahku. Aku buru-buru mengusap air mata di pipiku.

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome. & GeekyCube.