Too Late

Tidak ada yang berubah dari kota ini. Udara dinginnya selalu membuatku betah. Makanya setiap kali liburan, aku menyempatkan diri untuk pulang ke kota ini. Seperti sore ini aku tengah duduk di sebuah taman tepat di jantung kota ini, Taman Jam Gadang.

Tiba-tiba sebuah pesan singkat masuk ke telepon genggamku. Sedikit enggan, aku melihatnya. Ternyata dari Nada, sahabat dekatku. Dia mengabarkan kalau dia telah berada di kota ini juga.

Aku beranjak dari tempat dudukku dan beranjak menuju ke rumah sahabatku itu. Tidak sampai 15 menit kemudian, aku sudah sampai di depan rumahnya. Sebuah rumah yang tampak sederhana tapi penuh dengan kehangatan di dalamnya. Aku memandangi rumah itu sambil tersenyum. Membiarkan semua hal yang dulu aku lakukan bersama Nada di sini bermain dalam lamunanku.

“Ayo masuk. Oya, apa kabarmu?” sebuah suara mengagetkanku. Ah, ternyata Nada telah berdiri di sampingku. Lamunanku buyar, sambil tersenyum aku memeluknya.

“Seperti yang kamu lihat. Aku baik.”

“Masih menunggu perempuan yang sama?” dia melanjutkan sambil mencibir.

Begitulah Nada, tidak kenal basa-basi. Dia tidak pernah ragu untuk berbicara sesuai apa yang terlintas di pikirannya.

“Bukannya nawarin minum, malah langsung nanya tu pertanyaan.” sahutku dengan sedikit sebal.

“Nawarin kamu minum? Sejak kapan? Biasanya juga kamu yang ambil sendiri.”

Benar juga, rumah Nada sudah aku anggap seperti rumah sendiri. Orang tuanya pun sudah menganggapku seperti anak sendiri. Jadi apapun yang aku butuhkan saat berada di rumah ini, aku cari sendiri tanpa perlu menunggu disediakan.

“Jawab pertanyaanku tadi. Masih menunggu dia?”

Aku tersenyum. Tanpa perlu aku jawab, aku tau sebenarnya Nada sudah dapat menduga apa jawabannya. Nada selalu bisa membaca apa yang sedang aku pikirkan hanya dengan melihat mataku.

“Berarti kamu sudah bertemu dia?” sepertinya Nada memutuskan untuk menginterogasiku lebih lanjut.

***

Aku mengingat kembali kejadian beberapa hari yang lalu. Saat aku menemui Clara untuk pertama kalinya setelah sekian lama mencari waktu yang tepat untuk bertemu dengannya. Aku menghabiskan waktu dengan membicarakan banyak hal dengannya. Mulai dari pekerjaan sampai membicarakan tentang diri masing-masing.

Saat itulah aku tau, Clara sampai saat ini masih menyimpan seseorang di hatinya. Seseorang yang sangat dicintainya, yang tidak bisa dia hilangkan dari hatinya. Aku hanya terdiam mendengar penuturannya. Berusaha menyembunyikan rasa cemburu yang tiba-tiba muncul.

“Ada apa, Ka? Kenapa diam?”

“Tidak ada apa-apa. Cuma sedikit terkejut karena cerita kita tidak jauh beda.”

“Cerita yang mana?”

“Aku juga mencintai seseorang sejak lama. Namun, dia tidak pernah sadar kalau aku mencintainya. Aku pernah mencoba untuk berhenti berharap dan membuka hati untuk orang lain, tapi tetap saja aku tidak bisa melepaskannya dari hatiku.”

“Hmm… Kalau jodoh gak akan ke mana. Sesulit apapun jalan yang ditempuh dan sejauh apapun jarak yang memisahkan, kalau jodoh pasti akan dipersatukan.”

Aku mengangguk. Ya, dia benar. Jika jodoh pasti akan bersatu. Tidak ada tulang rusuk yang tertukar, kan?

“Aku boleh tau siapa orangnya?”

“Orangnya ada di depanku saat ini.” kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku.

Clara terdiam beberapa saat. Dia memandangku dengan wajah tidak percaya.

“Kamu gak lagi bercanda kan?” tanyanya memastikan.

“Aku gak bercanda.” aku tidak mengelak. Biar saja dia tau, agar aku tidak perlu lagi menunggu.

“So sorry. Kamu mengerti kan alasannya?”

“Ya, aku mengerti. Kamu masih mencintai dia yang sampai sekarang masih ada di hatimu. It’s OKIf something’s meant to be, it will happen. Right time, right person, and for the best reason.”

***

Aku menceritakan semuanya kepada Nada. Nada menyandarkan kepalanya di bahuku. Itu merupakan salah satu kebiasaannya saat sedang bersamaku.

“Jadi, kamu masih mau menunggu sampai hatinya bisa lepas?”

“Entahlah, aku tidak tau.”

“Bodoh. Apa kamu akan menyakiti dirimu terus menerus dengan menunggu sesuatu yang tidak pasti?”

“Tidak semudah itu untuk berhenti. Apa artinya aku menunggu selama ini jika tiba-tiba aku menyerah begitu saja?”

“Selama kamu masih mencari pembenaran atas apa yang kamu lakukan, kamu tidak akan pernah bisa berhenti.” terdengar nada sinis dari ucapan Nada.

Aku tidak tau harus menjawab apa. Ada benarnya apa yang dikatakan Nada. Aku selalu mencari pembenaran untuk menunggu Clara. Menunggu dia menyadari perasaanku. Menunggu dia menerima aku di hatinya.

Aku menoleh melihat ke arah Nada yang tiba-tiba merubah posisi duduknya, tidak lagi bersandar di bahuku. Ada air mata menetes di pipinya. Sejak awal aku mengenal Nada, sangat jarang aku melihatnya menangis. Hanya hal-hal tertentu yang bisa membuat seorang Nada meneteskan air mata.

“Kamu kenapa menangis?” tanyaku sambil mengusap air matanya.

“Kamu terlalu sibuk menunggu dia hingga kamu tidak pernah menyadari ada seseorang yang mencintai kamu. Seseorang yang tidak ingin melihat kamu disakiti. Seseorang yang ingin melihat kamu bahagia.”

“Maksud kamu?”

“Aku mencintaimu, Dhika. Entah sejak kapan. Tapi kamu tidak pernah sadar. Kamu terlalu sibuk dengan Clara-mu.

Sejak awal aku sudah siap kehilanganmu. Melepasmu dengan Clara asalkan kamu bahagia. Tapi kenyataannya, aku tidak melihat kamu mendapatkan kebahagiaan itu dari Clara. Kamu terus menyakiti diri dengan menunggu dia. Menunggu dia bisa melepas orang lain dari hatinya.”

Aku menunduk dalam diam. Pengakuan Nada mengejutkanku. Aku tidak pernah menyadari kalau Nada mencintaiku.

Sometimes you keep on sticking to someone you like. That’s why you never notice there’s someone who loves you. Kalimat ini tepat ditujukan untukku. Mencari pembenaran untuk tetap bertahan menunggu Clara membuat aku tidak bisa melihat ada cinta yang tulus yang diberikan Nada kepadaku. Perhatian yang dia berikan kepadaku, aku anggap sebagai perhatian seorang sahabat. Tidak lebih.

“Maaf.” hanya kata itu yang keluar dari mulutku.

“Maaf? Untuk apa? Kamu gak salah. Kita itu tiga orang bodoh. Dia bodoh tidak menyadari besarnya perasaan kamu sama dia. Kamu bodoh bertahan menunggu dia. Dan aku bodoh karena jatuh cinta sama kamu.”

Ya, mungkin aku memang bodoh. Bodoh untuk menunggu dia dan bodoh karena tidak pernah menyadari ada orang yang mencintai aku.

“Sudah, jangan menangis lagi. I don’t deserve your tears.

Nada mencoba tersenyum.

“Jangan minta aku untuk berhenti mencintaimu. Biarkan aku mencintaimu dengan caraku sendiri.”

***

Aku memacu motorku dengan kecepatan tinggi. Aku ingin segera tiba di rumah dan menenangkan diri. Sepanjang perjalanan, aku terus menyalahkan diriku karena telah membuat Nada menangis.

Mengapa harus sekarang Nada mengungkapkan semuanya? Mengapa tidak dari dulu? Oh ya, ini bukan salahnya. Ini salahku yang menutup mata akan kehadiran cinta yang lain untukku. Aku orang bodoh yang tidak pernah menyadari perasaan Nada kepadaku. Tidak seharusnya dia mengeluarkan air matanya untukku.

Aku semakin menambah kecepatan motorku. Bayangan wajah Nada yang menangis terus terbayang-bayang di kepalaku. Tiba-tiba sebuah mobil di depanku berbelok dengan mendadak. Aku terkejut dan berusaha mengendalikan laju motorku. Hal terakhir yang aku tau, aku terpental jatuh dari motorku. Setelah itu semuanya gelap.

***

Aku terbangun di sebuah ruangan. Dari baunya aku bisa menduga saat ini aku sedang berada di rumah sakit. Ah, aku tidak pernah suka berada di rumah sakit. Aku mencoba membuka mata. Cahaya lampu menyilaukan mataku sehingga aku harus menyipitkan mata untuk melihat.

Di samping tempat tidur, kedua orang tuaku terlihat cemas melihat ke arahku. Ada Nada juga di sana. Mungkin dia tau aku berada di rumah sakit dari orang tuaku.

“Kamu sudah sadar?” rupanya ayah melihat aku terbangun.

Aku hanya mengangguk dan melihat ke arah Nada. Aku bisa melihat matanya yang bengkak dan air mata yang masih membasahi pipinya. Aku tidak tau dia menangis karena masih mengingat kejadian di rumahnya tadi atau karena melihat keadaanku saat ini.

“Boleh aku bicara berdua dengan Nada sebentar?” tanyaku lirih kepada kedua orang tuaku.

“Tapi kondisi kamu….” Ibuku menjawab.

“Tidak apa-apa, Bu. Cuma sebentar.”

Kedua orang tuaku mengangguk dan berjalan keluar dari ruang perawatan.

“Kamu mau bicara apa?”

“Aku minta maaf, Nad. Aku bodoh selama ini tidak menyadari perasaan kamu. Bahkan aku sudah membuat kamu menangis.”

“Sudahlah. Tidak ada yang perlu dimaafkan. I’m glad,  finally I told you that I love you.

“Aku boleh minta sesuatu?”

Nada mengangguk.

“Bolehkah aku memelukmu untuk terakhir kalinya?”

Nada mendekatkan dirinya kepadaku. Aku memeluknya erat. Tidak terasa ada air mata menetes di pipiku. Ternyata begini rasanya dicintai sepenuh hati. Walaupun terlambat menyadarinya, aku bahagia mengetahui kalau aku sangat berarti dalam hati seseorang.

Nada tersenyum melihatku. Dia mengusap  kepalaku seperti yang biasa dia lakukan. Aku membalas senyumnya. Kemudian aku menutup mataku sambil berbisik,

“Terima kasih, Nad. Terima kasih karena telah mencintai orang bodoh ini. Seandainya aku tau dari dulu.

Selamat tinggal, Nada. Sampai jumpa di kehidupan selanjutnya. Sekali lagi, maafkan aku.”

***

  1. BeeNim
    Oct 22, 2011
    hebat. 49 menit bisa sepanjang ini :)
    Reply
    • Zafri
      Oct 22, 2011
      Nope. Ini dibikin beberapa waktu yang lalu dan diedit untuk menyesuaikan dengan tema lagu.
      Reply
Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome. & GeekyCube.