Untitled

Mendung kembali menyelimuti kotaku. Biasanya aku akan menikmati saat seperti ini. Tapi tidak kali ini. Mendung juga menyelimuti hatiku. Hubungan yang baru beberapa saat aku bangun, terancam berakhir. Bukan karena ketidakcocokan kami, tapi karena pihak ketiga. Ibuku.

Ibu tidak menyetujui hubunganku dengan Dhika. Menurutnya Dhika bukan orang yang tepat untuk menjadi pendampingku. Itu kesimpulan Ibu setelah pertama kali bertemu Dhika dan menginterogasinya. Aku tau, sebenarnya bukan itu alasan utama Ibu tidak menyetujui hubungan kami. Ibu ingin aku menjalin hubungan dengan anak salah satu koleganya yang menurutnya lebih pantas untukku.

“Kamu belum jadian kan dengan dia?”

“Belum. Kami belum lama berkenalan.” Jawabku berbohong.

“Baguslah. Jaga jarak, dia bukan orang yang tepat untuk kamu.”

“Maaf aku membohongi, Ibu.” Ucapku dalam hati dan beranjak ke kamar.

Aku tidak sanggup membendung air mataku. Tangisku pecah. Mengapa Ibu tidak memberikan sedikit kebebasan bagiku untuk menentukan pilihan. Aku berhak atas hidupku. Aku berhak untuk menentukan dengan siapa aku menjalin hubungan, dengan siapa aku bahagia. Dan saat ini orang yang mampu membuatku bahagia adalah Dhika. Mungkin memang kami terlalu cepat untuk memutuskan berkomitmen. Tapi apa itu salah? Aku merasa dia adalah orang yang tepat untukku.

“Menangis tanpa suara itu rasanya sakit banget.” Aku menulis update di microblogging.

“Nangis kenapa malam-malam?” salah seorang teman merespon update di microblogging-ku.

“Saya menangis karena bunga yang saya tanam gak bisa numbuh, karena banyak angin dan hujan.”

“Hmm. Selalu ada pelangi setelah badai. Jangan takut, dengan ketekunan dan kesungguhan bunga yang ditanam bakal tumbuh kok.”

“Well, I’ll be missing you, the rainbow! Waiting here. Bismillah.”

“Just remember, semua itu bakalan indah pada waktunya kok. Wish the best for you and him.”

Temanku benar, walaupun mungkin dia tidak tau pasti apa permasalahanku. Tapi jawabannya cukup membuatku tenang. Aku akan berusaha mendapatkan impianku.

Aku mengirimkan pesan singkat kepada Dhika.

“Uda, janji ya kita akan melewati ini semua berdua. Kita akan tunjukkan pada Ibu kalau keputusan aku memilih uda tidak salah.”

“Iya, kita akan melewati ini berdua. Kita akan tunjukkan itu. Kamu jangan sedih ya, cantik.”

“Terimakasih, uda. I’m lucky to be loved by you.”

“So am I.”

Aku tersenyum sambil menyeka air mata yang sedari tadi menetes. Sendiri, aku tidak akan mampu untuk bertahan menghadapi semua ini. Tetapi dengan dia di sampingku, aku akan mampu menghadapi semuanya. Aku akan tunjukkan pada Ibu kalau pilihanku ini tepat. Dhika adalah yang terbaik untukku. Bukan yang lain.

  1. nicko vandha
    Feb 14, 2012
    true story kah kibo? kalo yang gw baca" kayaknya true nih... dalem nih cerita :matabelo ijin ninggalin jejak :Paws:
    Reply
Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome. & GeekyCube.