Pernahkah

Pernahkah saat akan menghadiri sebuah undangan pernikahan kalian berpikir, apakah kedua penganten benar-benar menginginkan pernikahan mereka? Apakah pernikahan itu harus benar-benar terjadi di antara mereka? Apakah salah satu pihak tidak dipaksa untuk menikah?

Aku tidak pernah memikirkan hal itu saat akan menghadiri undangan pernikahan. Menurutku, jika seseorang melakukan pernikahan itu merupakan keinginannya. Pilihannya. Bukankah pernikahan itu sesuatu yang sakral? Yang (harusnya) hanya terjadi satu kali seumur hidup. Jadi jika seseorang tidak yakin dengan pilihannya mengapa dia memutuskan untuk menikah. Namun semua pemikiranku itu berubah saat aku mengenal Hana.

Aku bertemu dengannya saat sedang liburan bersama teman-temanku di villa milik keluarga salah satu temanku. Hana tinggal tidak jauh dari villa tempatku menginap. Saat itu aku sedang berjalan-jalan sendirian di pinggir sungai di dekat villa. Aku melihat seorang perempuan yang sepertinya usianya tidak jauh berbeda denganku, duduk di atas salah satu besar yang ada di pinggir sungai itu.

Entah mengapa aku tertarik untuk mendekatinya. Aku berjalan pelan mendekatinya, tidak ingin dia terkejut dengan kehadiranku. Setelah dekat aku menyapanya. Namun sepertinya dia tidak mempedulikanku. Aku mencoba menyapanya sekali lagi. Kali ini dia melihat ke arahku dan tersenyum. Senyuman yang penuh kesedihan, kataku dalam hati.

“Maaf. Aku menganggumu ya?” tanyaku pelan.

Dia menggeleng dan menatapku heran.

“Kenapa menatapku seperti itu? Apa aku terlihat aneh?”

“Tidak. Hanya saja……” dia tidak meneruskan kalimatnya.

Aku kembali memperhatikan raut wajahnya. Dari jarak yang lebih dekat ini, aku bisa dengan lebih jelas mengamatinya. Aku memperhatikan matanya. Mata adalah jendela jiwa. Jika ingin mengenal seseorang, perhatikanlah matanya dan kamu akan mengetahui apa yang ada di pikiran orang tersebut.

“Apa yang membuatmu sedih?” aku bertanya kepadanya.

Lagi-lagi dia tidak mengacuhkanku. Aku duduk di sisi lain batu yang didudukinya. Aku tidak bertanya lagi kepada perempuan yang ada di sampingku. Kubiarkan dia larut dengan pikirannya sendiri. Sementara aku asyik memandangi air sungai yang mengalir tenang.

Setengah jam berlalu sejak aku duduk di sampingnya. Dia sepertinya masih asyik dengan pikirannya sendiri.

“Namaku Hana. Sepertinya kamu tidak berasal dari daerah ini. Baru kali ini aku melihatmu.” tiba-tiba dia berbicara.

“Aku sedang liburan bersama teman-temanku di sini. Kami menginap di villa yang ada di sana.” aku menjawab sambil menunjuk ke satu arah.

“Kamu sendiri berasal dari daerah ini?” aku mencoba bertanya.

Hana mengangguk seraya berdiri.

“Aku harus pergi.” ucapnya dan berjalan menjauh.

Aku memperhatikan Hana yang berjalan menjauh. Ada sesuatu pada diri perempuan itu yang membuatku penasaran. Matahari semakin jauh bergerak ke barat. Aku beranjak dari dudukku dan berjalan ke villa. Besok aku akan kembali ke sini. Mungkin aku akan bertemu dia lagi. Ucapku dalam hati.

Keesokan harinya aku kembali berjalan ke sungai. Dan benar aku melihat Hana ada di situ. Duduk di batu yang sama. Tidak ada yang berubah dari raut mukanya pun tatapan matanya. Gurat kesedihan itu masih sepertinya masih setia menemaninya. Aku duduk di sebelahnya.

“Apa kabarmu?”

Hanya diam yang kudapati. Aku biarkan saja. Mungkin setelah dia tidak terlalu larut dengan pikirannya dia akan berbicara.

“Kamu sudah menikah?” tiba-tiba Hana bertanya.

“Belum.”

Hana kembali bersuara. Kali ini bukan kalimat-kalimat pendek atau pertanyaan basa basi. Dia bercerita tentang dirinya. Dia dipaksa oleh orang tuanya untuk meninggalkan orang yang dia cintai dan dipaksa menikah dengan orang yang sama sekali tidak dia cintai. Dia menolak. Namun orang tuanya tidak peduli. Mereka silau oleh harta yang akan mereka dapatkan jika Hana mau menikah dengan orang itu.

Ternyata di zaman yang sudah modern ini masih ada terselip cerita Siti Nurbaya pikirku. Hanya karena harta, orang tua mengorbankan anak mereka. Kasarnya menjual anak mereka. Tidak mempedulikan pilihan anak mereka. Yang mereka pedulikan hanyalah kebahagiaan mereka.

Aku hendak membuka mulut mengomentari cerita Hana saat aku sadar dia telah berjalan menjauh. Dia belum selesai bercerita. Membuatku semakin penasaran. Sedangkan besok pagi aku harus kembali ke kotaku. Sepertinya tidak mungkin aku akan mengetahui akhir dari cerita Hana.

“Jika besok Hana kembali ke sini, katakan kepadanya aku telah kembali ke kotaku. Katakan bahwa aku ingin mendengar lanjutan ceritanya.” aku berbisik entah kepada siapa.

Sudah dua hari berlalu sejak aku kembali dari liburan di villa. Dua hari itu juga aku masih bertanya-tanya bagaimana kabar Hana sekarang dan juga masih menyimpan rasa penasaranku akan kelanjutan ceritanya. Aku sedang berbaring di kamarku ketika terdengar ada ketukan di pintu. Aku bergegas berlari untuk membukakan pintu karena saat itu hanya aku sendirian di rumah. Ternyata yang datang adalah Hana.

“Kamu menemukan kertas yang berisi alamatku di tempat kamu biasa duduk?”

Hana mengangguk. Pagi sebelum kembali ke sini, aku menuliskan sebuah surat yang mengatakan kalau aku penasaran dengan lanjutan cerita Hana. Aku juga menuliskan alamat dan nomor teleponku di sana. Aku menaruh kertas itu di batu tempat Hana biasa duduk di pinggir sungai. Aku menaruh  batu kecil di atasnya agar tidak terbang terbawa angin. Harapanku saat itu jika Hana menemukannya dia akan mengirim surat atau menelponku.

“Apa kabarmu?”

Pertanyaan yang sebenarnya bisa kujawab sendiri saat melihat Hana. Kesedihan itu belum meninggalkannya. Hana tidak menjawab pertanyaanku. Namun dia langsung bercerita. Aku mendengarkannya dengan penuh perhatian.

“Sekarang apa yang akan kamu lakukan?” tanyaku setelah dia selesai bercerita.

“Jika diizinkan aku ingin tinggal di sini. Mungkin dengan begitu perlahan aku bisa melupakan masa laluku dan melakukan persiapan untuk memulai kehidupan baruku.”

“Tentu saja. Kamu boleh tinggal di sini sampai kamu siap.” jawabku sambil tersenyum.

Sejak saat itu Hana tinggal di rumahku. Menunggu sampai dia siap untuk memulai kehidupan barunya sendiri. Menunggu sampai dia siap untuk disempurnakan. Ya, Hana bukan sosok “biasa”. Hana sebenarnya telah meninggal beberapa tahun lalu. Pagi hari beberapa jam menjelang pernikahannya dengan orang yang tidak dia cintai, Hana memilih untuk mengakhiri hidupnya.

Sekarang setiap menghadiri undangan pernikahan, aku memiliki kebiasaan baru. Aku memikirkan apakah benar pernikahan itu keinginan mereka berdua. Tidak jarang juga aku memperhatikan sorot mata mereka. Apakah sorot mata mereka benar-benar menggambarkan kebahagiaan atau hanya kebahagiaan yang dibuat-buat untuk menipu para tamu dan diri mereka sendiri.

  1. Zabrina Moses
    Apr 06, 2013
    Aih, kece... Bahasanya agak baku tapi idenya okeh..
    Reply
    • Raven
      Apr 13, 2013
      Makasi, zab.
      Reply
Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome. & GeekyCube.