Ghost from Past

Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tidak banyak perubahan pada kamarku. Masih terlihat sama seperti saat aku meninggalkannya tiga tahun lalu. Aku langsung merebahkan diri di tempat tidur. Perjalanan selama 18 jam dari Heathrow Airport ke Bandara Soekarno – Hatta dan ditambah 3 jam lagi ke kota asalku, membuatku sangat lelah. Aku butuh istirahat.

Aku terbangun beberapa jam kemudian. Rasa lelahku sudah berkurang. Rumah masih sepi, sepertinya orang tua dan adik-adikku belum pulang. Aku beranjak dari tempat tidur menuju meja kerjaku. Sedikit berantakan, pasti ulah adik-adikku. Saat hendak merapikannya, pandanganku terhenti pada foto yang terletak di sana.

Aku mengambil foto itu dan memandanginya. Terlihat dua orang yang sedang berpelukan. Kebahagiaan terpancar dari senyum mereka. Foto itu adalah fotoku bersama Kayla yang diambil pada perayaan satu tahun jadian kami. Ada rasa ngilu yang tiba-tiba terasa di sudut hatiku. Kenangan yang dengan susah payah aku hilangkan, perlahan muncul lagi.

Saat itu hubunganku dengan Kayla akan genap berumur dua tahun. Aku sudah menyiapkan beberapa rencana untuk merayakannya. Namun sehari sebelum perayaan dua tahun jadian kami, Kayla datang menemuiku. Dia memintaku untuk tidak menghubungi atau menemui dia lagi.

“Ini pasti becanda, kan? Ini pasti bagian dari rencana kamu mengerjai aku buat anniversary kita.”

“Aku serius. Nggak ada second anniversary untuk kamu dan aku.”

Aku hanya terdiam. Kayla berjalan menjauh meninggalkan aku yang masih bingung dengan keputusannya yang mendadak. Setelah itu aku sama sekali tidak bisa menghubunginya. Semua rencana yang aku susun berantakan. Alasannya mengakhiri hubungan kami? Sampai saat ini aku pun tidak tahu apa alasannya.

Suara bel membuyarkan lamunanku. Sepertinya bukan orang tua atau adik-adikku. Dengan sedikit malas aku berjalan ke lantai bawah. Aku membukakan pintu. Seorang perempuan yang tidak aku kenal berdiri di sana.

“Apa kabar, Dimas?” dia menyebut namaku.

“Maaf, kamu siapa?”

“Kamu tidak mengenaliku?” dia balik bertanya

Aku menggeleng.

“Boleh aku masuk? Mungkin lebih enak jika kita ngobrol di dalam daripada di depan pintu.”

Aku mempersilakan perempuan itu masuk.

“Kamu sepertinya benar-benar tidak ingat aku. Aku Kayla.”

Kayla? Aku mengamatinya. Apa benar dia Kayla? Dia tidak seperti Kayla yang dulu aku kenal. Kayla yang aku kenal selalu penuh keceriaan. Sedangkan perempuan yang di hadapanku ini, aku tidak melihat keceriaan itu. Wajahnya menunjukkan hal yang sama sekali berbeda.

“Iya, aku banyak berubah.” Sepertinya dia tahu apa yang aku pikirkan. Dia lanjut menceritakan apa yang terjadi padanya selama tiga tahun ini. Dia meninggalkanku untuk pergi bersama lelaki lain. Jauh hari sebelum dia memutuskan hubungannya denganku, dia sudah menjalin hubungan dengan lelaki itu. Lelaki yang menurutnya memiliki banyak nilai lebih dibandingkan denganku. Makanya dia memilih untuk meninggalkanku.

Awalnya hubungan mereka baik-baik saja. Kayla mendapatkan apa yang tidak dia dapatkan dariku pada diri lelaki itu. Namun semakin hari terlihat sifatnya yang sebenarnya. Kayla kerap menerima perlakuan kasar dari lelaki itu. Beberapa kali Kayla mencoba mengakhiri hubungannya. Namun, permintaan maaf dan janji tidak akan melakukannya lagi dari si lelaki membuat Kayla luluh. Permintaan maaf yang entah sudah berapa kali diucapkannya, ternyata tidak bertahan lama. Puncaknya, setahun lalu Kayla benar-benar mengakhiri hubungannya dengan lelaki itu.

“Aku mencarimu setelah itu. Aku ingin meminta maaf karena telah meninggalkanmu tanpa memberikan penjelasan sedikitpun.” Dia menatapku.

Aku tersenyum. “Tidak perlu meminta maaf padaku. Semuanya sudah lama berlalu.”

“Dari mana kamu tahu aku sudah kembali?” sambungku.

“Tadi aku bertemu adikmu. Seperti biasa aku menanyakan kabarmu. Dan dia memberitahu kalau kamu sudah kembali.”

“Jika aku meminta kembali kepadamu, gimana?” sebuah pertanyaan yang tidak aku duga terlontar dari mulut Kayla.

Aku tertawa. Tidak menjawab pertanyaannya.

“Bukankah dulu kamu pernah mengatakan apapun yang terjadi sama aku, kamu akan selalu memberikan kesempatan untukku kembali bersamamu?”

“Inikah tujuanmu menemui aku?”

Kayla hanya diam.

“Aku memang pernah mengatakan itu. Dan saat itu aku mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Tapi sekarang keadaannya berbeda.”

“Kamu takut aku akan mengkhianatimu lagi? Atau kamu tidak bisa menerima kalau aku bukan Kayla seperti yang dulu kamu kenal?”

“Bukan. Bukan karena itu.”

“Lantas karena apa?”

Aku tidak langsung menjawab pertanyaan Kayla. Pandanganku terpaku ke arah pintu masuk.

“Karena dia.” Jawabku pada Kayla sambil menunjuk ke arah pintu masuk. Di sana berdiri seorang perempuan yang selama dua tahun ini mengisi hatiku. Perempuan itu bernama Hesty. Dan dua minggu lagi kami akan menikah.

  1. Farisa Novia
    May 10, 2013
    really Heathrow? for real? :p
    Reply
    • Raven
      May 14, 2013
      For now, just a dream. Next, who knows?;)
      Reply
  2. Hana
    Oct 09, 2014
    Beuuuhhh... lama banget ga update. #bersihinsaranglaba2 #bersin2
    Reply
Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome. & GeekyCube.